Sunday, December 16, 2012

Menata Hati dengan Cinta : Tak ada kegalauan atas nama cinta

by"Ustadz Sathori"
di kutip oleh ukhti
Dwi Ariyanti UNY
.
 

                        Cinta hakiki itu terjadi saat ada pertemuan antara kebeningan hati dan kelezatan nafsu. Inilah yang disebut nafsul mutma’innah sehingga timbul prinsp nafi qalbi ghoirullah.Dalam nafsu ada cinta, benci, susah, senang, ingin, takut dan semua yang lezat. Hati yang ada hanya benar, baik, dan mulia. So jika bejana hati dituangkan dalam bejana nafsu maka akan terjadi senyawa cinta yang hakiki atau cinta yang benar. Benar menurut hati sesuai dengan keinginan Allah berbeda dengan benar menurut pikiran yang bisa diperdebatkan secara universal.
 

                          Orang yang baik itu bukan orang yang selalu berbuat baik, tetapi orang baik itu orang yang mampu membaikkan perasaan orang lain kepada diri sendiri atau degan kata lain bersikap  husnudzon. Mulia itu mengangkat nilai diri di hadapan Allah SWT atau dengan kata lain ikhlas.
Benar, baik dan mulia yang sinergis dengan cinta, benci, senang, susah, berani, takut, ingin akan menghindarkan dari kegalauan.

Cinta yang bertemu dengan benar, baik dan mulia punya kriteria:
1. tidak mencintai karena penampilan fisik.
2. tidak membanding-bandingkan dengan yang lain.
3. tidak ada harapan untuk memiliki, coz saat sudah memiliki pasti akan menjadi budak dari yang dicintai, padahal kita hanyalah budak dari Allah.
4. tidak ada dalam kemaksiatan dan kemungkaran.
5. tidak menimbulkan dampak negatif sepert VMJ = Virus Menuju Jahanam
6. menjadi energi penyemangat untuk melipatgandakan ibadah dan amal sholeh.
7. membuat diri luluh dalam kebeningan dan kesucian.
8. menyejukkan hati siapa pun
9. tidak menggejolakkan hati orang lain, tetap hormat, santun dan menjaga izzah.
10. menginspirasikan untuk sesama
11. menjadi contoh teladan bagi orang yang menginkan cinta.

Trus bagaimana cara mendapatkan pendamping hidup?
Serahkan skenario itu hanya kepada Allah, insyaAllah ada kejutan-kejutan indah yang tak pernah terbayangkan karena
1. Kita memilki keterbatasan yang tidak terbatas.
2. Hidup itu hanya dua:
    * memberi dan menerima, so bingkailah dengan bingkai yang terpilih yakni memberilah dengan ikhlas dan menerima dengan keberserahan diri kepada Allah.
Simpulan : Sebaik-baik cara menjemput jodoh Adalah Menyerahkan semua hanya kepada Allah alias TAWAKAL yang mesti senantiasa dilatih.

Segalah Yang Terencana Itu Kehendak ILLAHI

Surakarta ,24- 26 oktober 2012

               Segalah yang terencana itu kehendal illahi , pernyataan yang menjadikan hidayatulloh pemuda  kelahiran 18 agustus 20 tahun silam lebih memantapkan imannya , dayat biasa disapa bangun disaat sepertiga malam ia ambil air wudhu dan sholat tahajud dua rakaat , dalam do'anya ia berlinangan air mata akan kerinduanya dengan sosok sang umi , karena ia menjanjikan pada sang umi saat libur idul adha yang kurang dua hari tepatnya tanggal 26 oktober akan pulang ke tegal , dalam tetesan air mata ia menyadari betapa lemahnya jiwa takmampu membendung kerinduanya akan umi dan keluarga lainya, berdo'a dalam ruang ukuran tiga kali dua setengah meter dalam keheningan malam disaat temen-temen kosnya sedang tidur nyenyak,do'a mengalir tak henti-henti hinga tak disadari dalam nikmanya berdo'a hingga ia  waktu awal subuh terlewatkan dan saat itu pagi pukul 06:00 dia gelisah akan kerugian waktu shubuh walau begitu ia tetap melaksanakan sholat shubuh 
            pagi pagi dalam suasana cerahnya  dan rutinitask lalulalang kesibukan kota solo ,dayat berangkat kuliah  dengan ditemani Supra 125 cc , motor yang selalu mengantarkan ia ke temapat yang dikehendakinya saat sampai di kampus dia yang mayoritas teman kelasnya laki-laki smua biasa sbelum masuk kelas nyantai dulu dalam parkitan kampus , ia dab teman temanya saling memahami prinsip satusama lain ia tetap beradaptasi dengan baik , teman-temanya banyak yang merokok walaupun begitu ia tetap memagang prnsipnya kadang dalam renunganya ia menyadari perinsip prinsip hidupnya tidak selarang dengan mode sekarang tetapi ia tak mengubah tekatnya , takpeduli orang menganggap jadul ngga jamani atu apalah. bahkan pernah dikatakan so muslim , atau teroris anti clalan jeans image itu yang sudah melekan dalam masyarakat , padahal tidak demikian dan analoginya seperti ini ketika seorang terpidana kasus korupsi yang tertangkap oleh penyidik  berasal dari lembaga legislatif bukan berati semua anggota legislatif koruptor bukan , tatapi ia sadar akan minoritas dalam kenyataanya maka terdiam dalam kata tidnkakan yang tepat tak ubahanya omelan tersebut akanmembuahkan hasil kelak di akhirat.
          Dalam keberjalanan proses perkuliaahan hari itu akhirnya pada akhir perkuliahan dimana jam sudah menunjukan pukul 1 siang ,dan ia lagi lagi ditemani oleh supra
125 cc menuju musholah kampus maklum itu adalah kampus wilayah dengan tekendalam berbagai fasilitas seperti hanya terdapat mushola kecil yang  kapasitasnya
hanya 12 orang tetapi itu patut disuyukuri ketika kita memandang yang lebih grave ,tatkala sedang duduk santai diteras musholah sehabis sholat duhur ia ditepon Ilyas teman sekaligus ketum di organisasi silaturrahmi mahasiswa dimana ia sekarang bernaung , ketum menelpon terkait kesiapan untuk kegiatan berqurban dan ternyata blum melunasi kambing qurban , kemarin saat transaksi baru Dp 200 ribu , karena idul adha kurang dua hari dan itu menjadi tanggung jawab dayat selaku kordinator acara qurban lantas ia bergegas pulang kekosanya untuk mengambil uang pelunasan seketika sampai di kos , baru mengambil nafas perlahan HPnya berdering tampa diduga sang umi nelpon menanyakan kapan pulang ,seketika itu rimbul kegelisahan kegelisaan ,kebinguangan akan jawaban yang pantas untuk uminya ,dia dalam kebingunan teramat dimana dihadapkan pada dua persoalan yang pelik ,disilain ia diharpakan , dirindukan kepulanganya oleh sang umi yang sudah menanti di rumah dan dilain pikah ia masih punya tanggung jawab yang sendang di emban , ia bingun arus bagaimana  ketika pulang ia dikira lari dari tanggung jawab , dimana salasatu orang yang masuk dalam golongan orang orang munafik adalah mereka yang tidak punya rasa tanggung jawab ia menangis kebingungan , ia berdoa kepada illahi  untuk dilindungi dari rasa keputusasaan







































































Saturday, December 15, 2012

Siapakah Ahlussunnah


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)
Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?
Telah menjadi ciri perjuangan Iblis dan tentara-tentaranya untuk terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah I merupakan tujuan tertinggi mereka. Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui Iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusaknya, atau minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah I. Iblis mengatakan di hadapan Allah I:
“Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.” (Al-A’raf: 17) .Dalam upaya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan:
“Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 17)
Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?
            Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah SAW dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai seperti yang digambarkan sebuah sya’ir:
Semua mengaku punya hubungan dengan Laila Namun Laila tidak mengakui yang demikian itu Yaitu, tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.
            Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka bersimbol dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mereka akan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut bisa jadi merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek di antara mereka.
As-Sunnah
Berbicara tentang As-Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah, padahal bukan. Mendefinisikan As-Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu menurut bahasa, syariat dan menurut generasi pertama, ahlul hadits, ulama ushul fiqih, dan ahli fiqih.
            As-Sunnah menurut Bahasa
As-Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), yang baik ataupun yang buruk. Khalid bin Zuhair Al-Hudzali berkata:
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena sunnah yang kamu tempuh
Orang yang pertama ridha terhadap suatu sunnah adalah yang menjalaninya.
Sunnah dalam ucapan tersebut di atas berarti jalan.
            As Sunnah menurut Syariat dan Generasi yang Pertama
Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah r atau dalam ucapan para shahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau amal, baik hukumnya wajib, sunnah atau mubah.
            Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (10/341) berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah jika terdapat dalam hadits Rasulullah r, maka yang dimaksud bukanlah sunnah sebagai lawan wajib (apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa, pent.).”
            Ibnu ‘Ajlan berkata dalam kitab Dalilul Falihin (1/415) ketika beliau mensyarah hadits fa’alaikum bisunnati (maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku): “Artinya jalan dan langkahku yang aku berjalan di atasnya, berupa apa-apa yang telah aku rincikan kepada kalian berupa hukum-hukum i’tiqad (keyakinan) dan amalan-amalan, baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”
            Al-Imam Ash-Shan’ani di dalam kitab Subulus Salam (1/187), ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri z, berkata: “Di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashabta As Sunnah’ (kamu telah menepati sunnah), yaitu jalan yang sesuai dengan syariat.”
Jika meneliti nash-nash yang menyebutkan kata As Sunnah, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah r.” Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih saja sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.
 As-Sunnah menurut Ahli Hadits
As-Sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah r baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).
As-Sunnah menurut Ahli Ushul Fiqih
Menurut ahli ushul fiqih, As-Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syariat dan juga dalil-dalilnya.
Al-Amidi dalam kitab Al-Ihkam (1/169) mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah r berupa dalil-dalil syariat, yang bukan dibaca (maksudnya bukan Al-Qur`an, red) dan bukan mu’jizat…”
As-Sunnah Menurut Ulama Fiqih
As Sunnah menurut mereka adalah segala sesuatu yang jika dikerjakan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah –dengan hanya menyandarkan istilah ahli fiqih–, tidaklah memiliki dalil yang kokoh sedikitpun dan tidak memiliki rujukan. Jika merujuk pada istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika bersandar pada istilah ulama ushul, merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika menggunakan istilah ulama hadits, orang-orang yang mengaku Ahlus Sunnah tidak layak sedikitpun untuk menyandang istilah tersebut.
Barangkali hanya istilah bahasa yang bisa dijadikan ‘dalil’. Itupun, tidak bisa dijadikan hujjah dalam melangkah, terlebih dalam menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.
Ahlus Sunnah dan Ciri-cirinya
Jadi, definisi Ahlus Sunnah seperti dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, adalah yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan apa yang telah disepakati oleh para pendahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (Majmu’ Fatawa, juz 3 hal. 375)
Adapun ciri-ciri Ahlus Sunnah yang menunjukkan hakikat mereka adalah:
q Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah r dan jalan para shahabatnya, yang menyandarkan pada Al-Qur‘an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih. Yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah r bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)
q Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah I dan Rasulullah r. Allah I berfirman:
“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)
“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)
q Mereka mendahulukan ucapan Allah I dan Rasul r di atas ucapan selainnya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul) di atas ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
q Menghidupkan Sunnah Rasulullah r baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehingga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah r bersabda tentang mereka:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dan keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing.” (Shahih, HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar c)
q Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatik kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah r. Al-Imam Malik t mengatakan: “Setiap orang ucapannya bisa diambil dan bisa ditolak, kecuali ucapan Rasulullah r .”
q Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan Sunnah Rasulullah r dan sunnah para shahabatnya.
q  Mereka adalah orang-orang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah I dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan mengingkari kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.
q Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah I dan Rasulullah r.
q Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.
   Asy-Syaikh Rabi’ dalam kitab Makanatu Ahlil Hadits (hal. 3-4) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para shahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasulullah r dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mereka mendahulukan keduanya di atas setiap ucapan dan petunjuk, baik yang terkait dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlak, politik, maupun persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah I kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad r. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat, dan takwil orang-orang bodoh. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Murji`ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah I, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat. Dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”
Ciri Khas Mereka
Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah r bersabda:
            “Berbahagialah orang yang asing itu, (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang jahat yang banyak. Dan orang yang tidak menaati mereka lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 3921)
            Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin (3/199-200), berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama manusia. Dia asing dalam berpegangnya terhadap As Sunnah karena manusia berpegang kepada bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan manusia, asing pada shalatnya dikarenakan jeleknya shalat manusia, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan manusia, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah manusia, asing dalam pergaulannya bersama manusia dikarenakan dia bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu manusia.”
            Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu di tengah orang-orang jahil, pemegang As Sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah  I dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana sesuatu yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”
            Ibnu Rajab t dalam kitab Kasyfu Al-Kurbah Fi Washfi Ahlil Ghurbah (hal. 16-17) mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah r: “Dan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya dari siapapun yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”
            Mereka adalah orang yang di akhir jaman dalam keadaan asing sebagaimana telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki Sunnah Rasulullah r yang telah dirusak oleh manusia. Merekalah orang-orang yang lari dari fitnah dengan membawa agama mereka. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.
            Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al-Auza’i t mengatakan tentang sabda Rasulullah r: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing”: “Adapun Islam itu tidak akan pergi, akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji As Sunnah dan menyifatinya dengan asing serta menyifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum Ath-Tha`ifah Al-Manshurah, hal. 103-104)
            Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah I berfiman:
“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba`: 13)
Dari pembahasan singkat ini, akan jelas siapa sebenarnya Ahlus Sunnah itu dan siapa-siapa yang hanya mengaku-ngaku Ahlus Sunnah. Benarlah ucapan seorang penyair yang mengatakan:
Semua mengaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila tidak mengakui yang demikian itu
Jadi, Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur`an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih.
Wallahu a’lam
.

UNTUK LAKI LAKI

Wanita adalah hiasan kehidupan dunia. Allah pun telah berfirman di dalam Al-Quran:
Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap syahwat dari wanita, anak-anak lelaki, harta benda yang berlimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan pertanian, itulah perhiasan kehidupan dunia. Dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.” [Q.S. Ali Imran:14].
Apalagi jika wanita itu adalah wanita yang shalihah. Rasulullah ` telah menyebut wanita shalihah sebagai perhiasan dunia yang paling baik dalam sabda beliau yang artinya, “Dunia itu adalah perhiasan dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita shalihah.” [H.R. Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr c].


Demikianlah, wanita shalihah akan memberikan warna yang baik di kehidupan dunia. Karena seorang wanita shalihah akan melahirkan generasi yang shalih, memberikan sokongan kepada suaminya untuk beramal shalih, dan dia sendiri pun menjaga dirinya agar senantiasa berada di dalam keshalihan.
Namun, perhiasan dunia ini justru akan menjadi azab jika sudah ditumpangi nafsu syaithaniah. Tak sedikit wanita yang justru menggelimpangkan korbannya ke dalam jurang kenistaan. Pun, tak jarang wanita menjadi sumber rendahnya moral dalam suatu bangsa. Tak heran, ada sebuah ungkapan yang menyatakan, “Jika jelek kondisi moral wanita suatu bangsa, niscaya jelek pula lah bangsa tersebut. Namun jika baik kondisi moral wanita suatu bangsa, hal itu akan menyumbang baiknya bangsa tersebut.”
Makanya, Rasulullah ` pun pernah mewanti-wanti:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berganti generasi di atasnya lalu melihat apa yang kalian perbuat. Maka jagalah diri kalian dari dunia dan wanita karena sesungguhnya awal musibah yang menimpa Bani Israil ada pada wanita.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z].
Rasulullah ` juga menegaskan bahwa wanita adalah ujian yang paling berbahaya bagi laki-laki dalam sebuah hadits yang artinya, “Tidaklah aku tinggalkan sebuah ujian setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Usamah bin Zaid c].
Mungkin hadits yang kami sebutkan ada yang menilainya terlalu memojokkan dan menyalahkan wanita tanpa menyinggung kesalahan laki-laki. Janganlah kita terburu-buru menilai demikian. Kita tidak pungkiri bahwa laki-laki memiliki andil sebagai pelakunya. Tapi, jika kita telisik dan perhatikan lebih jauh, akan kita dapati titik terang bahwa perbuatan laki-laki ini lebih sering disebabkan oleh umpan yang dilemparkan si wanita. Nah, inilah pesan yang hendak disampaikan oleh Nabi ` sebagai bentuk empati kepada umatnya, agar mereka lebih berhati-hati supaya tidak terjerumus ke dalam kubangan kerendahan yang diakibatkan olehnya.

Gerbang Menuju Kerendahan
Syaithan sangat getol dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan dan kemaksiatan. Segala cara akan dia tempuh demi merealisasikan janjinya yang pernah dia sampaikan kepada Allah yang artinya, “Demi kemuliaan-Mu, aku benar-benar akan menyesatkan mereka semua.” [Q.S. Shad:82].
Di antara jalan yang dia tempuh untuk menjerumuskan manusia adalah melalui wanita karena dia tahu bahwa manusia diciptakan secara tabiat mencintai wanita. Dia memperalat wanita untuk membuka celah-celah kerusakan dengan beberapa cara:
(1)    Zina alias berhubungan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan yang sah
Zina adalah dosa besar yang telah Allah firmankan:
“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perkara yang keji dan jalan yang jelek.” [Q.S. Al-Isra` (Bani Isra`il):32]. Sayangnya, zina pada zaman ini dianggap sesuatu yang biasa jika dilakukan suka sama suka. Ditambah lagi, media massa semakin memberikan kesan telah biasanya perbuatan zina. Inilah awal dari kehancuran suatu bangsa. Na’udzu billahi min dzalik.
(2)    Mengumbar aurat wanita
Sebagai seorang mukmin, tentu kita mengetahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Namun sekarang syaithan telah berhasil membujuk mereka untuk menanggalkan pakaian kehormatan mereka satu demi satu. Nabi ` bersabda yang artinya, “Dua golongan dari penduduk neraka yang belum aku lihat: sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dia gunakan untuk mencambuk manusia; dan wanita-wanita yang berbaju tapi telanjang (berbaju tipis dan transparan atau berbaju tebal tapi ketat, red.), melenggak-lenggokkan pundaknya dan berjalan miring, kepalanya seperti punuk unta (karena digelung dan diikat sehingga nampak ikatannya dari luar jilbabnya, red.). Wanita ini tidak akan mendapatkan wangi surga, padahal wanginya bisa dicium dari jarak perjalanan demikian dan demikian.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z]. Demikianlah mukjizat Nabi Muhammad `. Sejak dahulu beliau telah mensinyalir perbuatan semacam ini pada umatnya meskipun belum terjadi. Sekarang, pemandangan semacam ini tidak susah didapati. Malahan, sulit bagi kita untuk menghindarinya. Wallahul musta’an.
(3)    Ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan wanita) serta khalwat (laki-laki dan perempuan berduaan)
Ikhtilath dan khalwat adalah salah satu jalan menuju zina. Dalam Islam, segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam keharaman adalah haram. Apalagi, Allah  telah melarang secara tegas untuk mendekati perzinaan dalam ayat yang tadi kita sebutkan (Q.S. Al-Isra`:32). Rasul ` pun telah menegaskan haramnya ber-khalwat di dalam sabda beliau (yang artinya), “Janganlah laki-laki berduaan dengan wanita kecuali bersama dengannya mahram[1].” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
Rasulullah ` juga bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan wanita kecuali yang ketiganya adalah syaithan.” [H.R. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v].
(4)    Tabarruj jahiliyah (berdandan atau bersolek selain untuk suami)
Patut kita ketahui bahwa seorang wanita tidaklah diperbolehkan untuk berdandan dan bersolek di luar rumahnya. Allah telah melarang istri-istri Nabi ` untuk ber-tabarruj dengan firman-Nya:
“Dan tetaplah berada di rumah kalian dan janganlah ber-tabarruj dengan tabarruj jahiliyah yang terdahulu.” [Q.S. Al-Ahzab:33]. Jika Allah melarang istri-istri Nabi ` yang notabene adalah wanita-wanita pilihan, maka wanita umat Islam ini lebih utama untuk mendapatkan perintah ini.
(5)    Melemahkan semangat untuk beramal shalih
“Wahai orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang merupakan musuh bagi kalian.” [Q.S. At-Taghabun:14]. Mereka dianggap musuh karena seringkali istri dan anak menggembosi semangat beramal shalih. Seringkali kita dapati, seseorang lelaki sebelum menikah sangat rajin sekali dalam beribadah, namun ketika mengarungi bahtera rumah tangga seketika itu juga  dirinya tak lagi terlihat di dalam majelis taklim. Bahkan, shalat berjama’ah pun kadang absen.

Untukmu Wanita
Wahai wanita, berhati-hatilah dirimu. Jangan sampai syaithan memperalatmu menjadi penyebar kerusakan. Jangan biarkan dirimu menjadi umpan untuk menjerumuskan laki-laki ke dalam neraka. Ingatlah, bahwasanya Rasulullah ` pernah melihat neraka, ternyata mayoritas penduduknya adalah wanita.
Wahai wanita, generasi depan adalah tanggung jawabmu. Jangan engkau rusak dengan merusak dirimu. Kenakan kembali jilbabmu, kembalilah ke dalam koridor Rabbmu. Ketahuilah, Rabbmu adalah Rabb yang Maha Mengetahui maslahat dirimu. Dia adalah Maha Adil yang tidak ingin menzalimimu.
Wahai wanita, ketahuilah kodratmu. Allah memberimu hak sesuai dengan kewajibanmu dan mewajibkanmu sesuai dengan kemampuanmu. Ketahuilah, Allah memberimu jalan lebih mudah untuk masuk ke dalam surga karena itu pantas dengan pengorbananmu. Rasul ` pun telah memberimu kabar gembira dalam sebuah hadits shahih yang memiliki banyak jalan, yang artinya, “Jika seorang wanita shalat lima waktu, puasa wajib sebulannya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu manapun yang engkau mau.’” [H.R. Ahmad, Ath-Thabarani, dan Al-Bazzar, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v].

Untukmu Lelaki
Wahai lelaki, sesungguhnya Allah sedang mengujimu. Jangan biarkan dirimu terpancing ke dalam jerat syaithan melalui umpan wanita. Engkau diciptakan oleh Allah memiliki pikiran yang lebih matang dan pribadi yang lebih mapan. Maka, berpikirlah beberapa kali sebelum terjatuh dalam jeratnya.
Janganlah engkau merasa dirimu lebih kuat daripada wanita lantas lalai terhadap bahayanya. Tidakkah engkau ingat bahwasanya banyak tokoh dunia ‘tersihir’ oleh wanita sehingga akhirnya terkapar dalam kekalahan. Rasul ` pun telah mengisyaratkan hal ini dengan bersabda yang artinya, “Tidaklah aku melihat makhluk kurang akal dan agamanya yang lebih menguasai pikiran seorang lelaki kuat daripada wanita.” [H.R. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri z].
Pun, janganlah karena merasa dirimu lebih kuat daripada wanita lantas membuatmu sewenang-wenang terhadap wanita. Ingatlah, Allah menjadikanmu sebagai pelindung wanita, penjaganya, pemberi haknya, dan pemberi ketenteraman baginya. Allah telah mewasiatkan kepadamu:
“Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita…” [Q.S. An-Nisa`:34].
Allahu a’lam bish shawab.



[1] Mahram -yang sering disebut masyarakat Indonesia dengan istilah muhrim- adalah wanita atau laki-laki yang diharamkan untuk dinikahi baik karena kekerabatan atau karena persusuan. Istilah yang benar adalah mahram, bukan muhrim, karena muhrim adalah orang yang sedang ihram (haji).

SISTEM PENDINGIN PADA SEPEDA MOTOR

A.    Deskripsi Singkat                 Setiap    motor    bakar    memerlukan    pendinginan. Untuk itu dikenal adanya siste...