Suatu ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat. Para sahabat yang
menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi menggerutup seolah-olah
sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.
Sayidina
Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya
setelah selesai sholat, ”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan
menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?” Namun
Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”
Mendengar
jawaban ini Sahabat Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa
setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi
bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…”
Melihat
kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya.
Para sahabat amat terkejut. Ternyata perut Rasulullah yang kempis,
kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan
rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus
setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.
Umar memberanikan diri
berkata, ”Ya Rasulullah! Adakah bila Anda menyatakan lapar dan tidak
punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam?”
Rasulullah
menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan
engkau korbankan demi Rasulmu ini. Tetapi apakah yang akan aku jawab di
hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi
umatnya?”
Para sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan,
”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak
tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang
kelaparan di Akhirat kelak.” (Anam)
Diharapkan jangan membaca isi blog ini jika niat anda hanya iseng-iseng yang tak punya tujuan dan disarankan mending jauh jauh dari sini kami butuh pembaca yang bener bener punya kesentsistifan dalam bidang ilmu
Tuesday, February 26, 2013
Penyebab Umar Menangis di Hadapan Nabi
Umar bin Khattab merekam pengalaman mengharukan ketika berkunjung ke
rumah Rasululah SAW. Umar menyaksikan pemimpin agung yang sangat
dimuliakan itu sedang terbaring di atas tikar kasar nan rusak.
Kesedihan Umar bertambah ketika tekstur tikar usang itu membekas di punggung Nabi. Di hadapan Rasulullah, "Singa Padang Pasir" ini pun menumpahkan air matanya.
"Apa yang menyebabkan Engkau menangis, wahai Umar?" tanya Nabi.
"Aku melihat Kisra serta raja-raja lain menikmati tidur di atas ranjang mewah beralaskan sutera. Tetapi di sini Aku melihat Engkau tidur beralaskan tikar semacam ini."
Dengan lembut, Nabi menimpalinya dengan sebuah nasehat.
"Wahai Umar, tidakkah Engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagiaan akhirat sedangkan mereka memilih dunia."
Hati Umar bergetar mendengar jawaban tersebut. Umar bersyukur menjadi saksi hidup tentang kebesaran dan kemuliaan pribadi Rasulullah SAW, manusia terpilih yang sangat dihormatinya itu
Kesedihan Umar bertambah ketika tekstur tikar usang itu membekas di punggung Nabi. Di hadapan Rasulullah, "Singa Padang Pasir" ini pun menumpahkan air matanya.
"Apa yang menyebabkan Engkau menangis, wahai Umar?" tanya Nabi.
"Aku melihat Kisra serta raja-raja lain menikmati tidur di atas ranjang mewah beralaskan sutera. Tetapi di sini Aku melihat Engkau tidur beralaskan tikar semacam ini."
Dengan lembut, Nabi menimpalinya dengan sebuah nasehat.
"Wahai Umar, tidakkah Engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagiaan akhirat sedangkan mereka memilih dunia."
Hati Umar bergetar mendengar jawaban tersebut. Umar bersyukur menjadi saksi hidup tentang kebesaran dan kemuliaan pribadi Rasulullah SAW, manusia terpilih yang sangat dihormatinya itu
Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal
Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia
melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa
pikir panjang langsung memakannya.
Ketika Idris sudah
menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah
yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya.
Idris
berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan
aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah
pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin,
buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.
Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.
“Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?” kata Idris.
Orang
tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu.
Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan
tanpa gaji,” katanya kepada Idris.
Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya.
Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun.
“Tuan,
saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah
tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?”
“Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.”
Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu.
Idris
pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri
anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara
penghulu.
Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun
memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis
buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik
yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah.
Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia. (A. Khoirul Anam)
Kesederhanaan Istri Umar bin Abdul Aziz
Fatimah sangat terkejut ketika mendengar berita bahwa telah diangkat khalifah baru, Umar bin Abdul Azis yang tak lain adalah suaminya sendiri. Namun ia lebih terkejut ketika tahu kalau Sang Raja baru dikabarkan menolak segala fasilitas istana.
Umar bin Abdul Aziz memilih menunggang keledai untuk kendaraan
sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang
akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan.
Sungguh Fatimah
heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat
mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan
hidup mengapa secara tiba-tiba ia hendak berpaling dari kemewahan,
padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan
kepadanya?
Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat
suaminya pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai
khalifah umat islam. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan
tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya
terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung
beban yang teramat berat.
Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz
berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri
tercinta, “Fatimah, isteriku...! Bukankah engkau telah tahu apa yang
menimpaku? Beban yang teramat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda
bahtera yang dipenuhi, ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini
benar-benar menyita waktuku hingga hakku terhadapmu akan terabaikan.
Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku apabila aku akan menjalani
hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga
ajal menjemputku.”
“Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?” tanya Fatimah.
“Fatimah...!
engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita
berasal dari umat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke
baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun kecuali sebidang tanah yang kubeli
dari hasil gajiku sebagai pegawai, disebidang tanah itu kelak akan kita
bangun tempat berteduh kita dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut.
Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana
perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka
berterus-teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!” jawab
Umar bin Abdul Aziz.
Fatimah kembali bertanya,”Ya suamiku...apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?”
“Aku
memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu
dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang
tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian
terakhirku,” jawab Umar bin Abdul Aziz lagi.
Aneh. Fatimah yang
notabene merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan fasilitas
yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal, tidak kecewa
mendengar keputusan suaminya ia. Ia tidak menunjukan kekesalan dan
keputus asaan. Justeru dengan suara yang tegar, mantap ia menegaskan,
“Suamiku...! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia
disisimu baik dikala susah atau senang hinga maut memisahkan kita.”
Fatimah
merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara putra
khalifah daulah Abbasyiah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Layaknya
putri raja, fatimah pun mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang
mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan dimanja oleh kedua orang
tuanya dan saudara-saudaranya. Kebahagiannya menjadi sempurna dengan
dipersunting oleh seorang lelaki yang terbaik pada zamannya, dari
keluarga yang terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang hidup
penuh dengan keglamoran dan kemewahan meskipun demikian ia merupakan
sosok yang relegius dan sangat amanah.
Fatimah yang agung itu
menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh
suaminya yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam kehidupan, demi
bakti dan keridaan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan
kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan
penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat.
Di
rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian
yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan
semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa padahal status yang mereka
sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu.
Begitu
sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum
mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat
islam kala itu. Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk
menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia
melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang
memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang dalam
kondisi rusak.
Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar
bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar
bin Abdul Aziz. Tamu itu pun menanyakan sesuatu hal, “Ya Sayyidati...,
mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki
pagar rumah engkau?” Seraya tersenyum Fatimah menjawab, “Dia adalah
amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari.
Hairuni
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin, Prodi Tafsir Hadits. (Red: Anam)
Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Istana
Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah
tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan
hendak membericarakan sesuatu.
”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.
”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.
Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.
”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.
”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.
Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.
"Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah."
Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” ini tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara.
”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.
”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.
Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.
”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.
”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.
Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.
"Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah."
Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” ini tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara.
Cinta di Atas Cinta
by''Anis Matta
Perempuan oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!
Itulah, misalnya, pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar adalah seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.
Tapi begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasinya. Ia pun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. "Aku takut pada neraka," katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamanya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri.
Ia memulai perubahan besar itu dari dalam dirinya sendiri, isteri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras itu membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam waktu 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa' Rasyidin. Maka ia pun digelari Khalifah Rasyidin Kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah isterinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi isterinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang, justru sang isterilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat ini cinta hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. Cinta dan cita bertemu atau bertarung, disini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.
Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tiada ada! Tapi, "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini," kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati disini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, "Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!
Perempuan oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!
Itulah, misalnya, pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar adalah seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.
Tapi begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasinya. Ia pun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. "Aku takut pada neraka," katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamanya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri.
Ia memulai perubahan besar itu dari dalam dirinya sendiri, isteri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras itu membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam waktu 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa' Rasyidin. Maka ia pun digelari Khalifah Rasyidin Kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah isterinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi isterinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang, justru sang isterilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat ini cinta hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. Cinta dan cita bertemu atau bertarung, disini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.
Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tiada ada! Tapi, "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini," kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati disini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, "Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!
5W 1H
Saat
kuliah dulu, saya ikut pelatihan jurnalistik. Pelajaran yang paling
saya ingat adalah 5W 1H. 5W merupakan singkatan dari Why, What, When,
Who, Where. Sedangkan 1H adalah How. 5W 1H tidak hanya bisa berguna
dalam dunia jurnalistik tetapi juga untuk kehidupan kita sehari-hari.
Sering-seringlah mengajukan pertanyaan pada diri sendiri menggunakan 5W
1H ini.
Why, mengapa hidup saya masih seperti ini? Mengapa saya belum punya karya padahal status saya karyawan. Bukankah pengertian hartawan itu orang yang banyak harta, dermawan adalah orang yang banyak berderma. Karyawan seharusnya orang yang punya banyak karya. Tetapi mengapa saya belum punya karya?
What, apa yang ingin Anda banggakan di hadapan Sang Pencipta, orang tua, pasangan hidup dan juga orang-orang di sekitar Anda? Bekal apa yang ingin Anda bawa saat kelak dipanggil oleh-Nya. Jejak apa yang ingin Anda tinggalkan di semesta?
When, kapan Anda ingin segera memperbaiki diri? Saran saya, detik ini juga, jangan tunda-tunda karena kematian tak mengenal usia. Kapan juga Anda ingin membahagikan orang-orang yang Anda cintai? Ayo jawab, berhentilah sejenak dan jawab pertanyaan ini.
Who, siapakah yang ingin Anda jadikan partner sukses Anda? Siapakah guru kehidupan Anda? Siapakah orang-orang yang akan Anda jadikan sahabat baik Anda. Ingat, kualitas sahabat Anda itu juga menentukan kualitas hidup Anda.
Where, dimana Anda ingin lebih banyak aktif? Dimana Anda ingin banyak belajar? Dimana bisnis Anda ingin Anda kembangkan? Dimana kelak tempat terbaik yang Anda impikan? Dimana kira-kira tempat kehidupan abadi Anda, surga atau neraka?
How, bagaimana Anda akan meraih kehidupan terbaik SuksesMulia? Bagaimana caranya Anda membahagiakan orang-orang yang Anda cintai. Bagaimana agar nama Anda dikenang oleh anak cucu Anda?
Silakan kembangkan sendiri pertanyaan-pertanyaan 5W 1H untuk kehidupan Anda yang jauh lebih baik. Selamat mencoba…
Salam SuksesMulia!
Jamil Azzaini
Why, mengapa hidup saya masih seperti ini? Mengapa saya belum punya karya padahal status saya karyawan. Bukankah pengertian hartawan itu orang yang banyak harta, dermawan adalah orang yang banyak berderma. Karyawan seharusnya orang yang punya banyak karya. Tetapi mengapa saya belum punya karya?
What, apa yang ingin Anda banggakan di hadapan Sang Pencipta, orang tua, pasangan hidup dan juga orang-orang di sekitar Anda? Bekal apa yang ingin Anda bawa saat kelak dipanggil oleh-Nya. Jejak apa yang ingin Anda tinggalkan di semesta?
When, kapan Anda ingin segera memperbaiki diri? Saran saya, detik ini juga, jangan tunda-tunda karena kematian tak mengenal usia. Kapan juga Anda ingin membahagikan orang-orang yang Anda cintai? Ayo jawab, berhentilah sejenak dan jawab pertanyaan ini.
Who, siapakah yang ingin Anda jadikan partner sukses Anda? Siapakah guru kehidupan Anda? Siapakah orang-orang yang akan Anda jadikan sahabat baik Anda. Ingat, kualitas sahabat Anda itu juga menentukan kualitas hidup Anda.
Where, dimana Anda ingin lebih banyak aktif? Dimana Anda ingin banyak belajar? Dimana bisnis Anda ingin Anda kembangkan? Dimana kelak tempat terbaik yang Anda impikan? Dimana kira-kira tempat kehidupan abadi Anda, surga atau neraka?
How, bagaimana Anda akan meraih kehidupan terbaik SuksesMulia? Bagaimana caranya Anda membahagiakan orang-orang yang Anda cintai. Bagaimana agar nama Anda dikenang oleh anak cucu Anda?
Silakan kembangkan sendiri pertanyaan-pertanyaan 5W 1H untuk kehidupan Anda yang jauh lebih baik. Selamat mencoba…
Salam SuksesMulia!
Jamil Azzaini
Subscribe to:
Posts (Atom)
SISTEM PENDINGIN PADA SEPEDA MOTOR
A. Deskripsi Singkat Setiap motor bakar memerlukan pendinginan. Untuk itu dikenal adanya siste...
-
A. Uraian Materi 1. Pendahuluan Sistem kelistrikan tambahan merupakan sistem di luar sistem utama namun memiliki fungsi yang ...
-
A. Deskripsi Singkat Mesin terdiri dari bagian-bagian logam yang bergerak, beberapa diantaranya ada yang berhubungan langsung s...
-
A. Deskripsi Singkat Setiap motor bakar memerlukan pendinginan. Untuk itu dikenal adanya siste...

